Perumusan Tujuan Afektif
Perumusan Tujuan Pembelajaran - Afektif
Pembelajaran dalam domain afektif memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi, terutama pada bagian perancangan teknik pengukuran perubahan sikap. Kendati demikian, domain ini memegang peranan utama dalam Pendidikan Kristen sebab berfokus pada pembentukan karakter, sikap hati, serta nilai-nilai ketaatan kepada Tuhan.
Pada kelompok anak pra-remaja (10–12 tahun), perumusan berada pada afektif level satu (menerima/receiving). Pemelajar dilatih untuk bersikap terbuka dan mendengarkan firman Tuhan, yang dapat diukur melalui teknik non-tes seperti lembar observasi ketenangan dan perhatian. Bagi remaja (13–15 tahun), perumusan berlanjut ke afektif level dua (merespons/responding) untuk mendorong pemelajar dalam memberikan tanggapan aktif serta membantu teman.
Pada kelompok pemelajar dewasa (20 tahun ke atas), perumusan ditingkatkan hingga afektif level tiga (menata nilai/valuing). Pemelajar diajak untuk mengorganisasikan nilai Kerajaan Allah ke dalam pola hidup pribadi dan menyatakan komitmen tindakan nyata di tengah masyarakat. Evaluasi sikap ini dilaksanakan melalui instrumen observasi partisipatif, wawancara terbimbing, dan lembar refleksi komitmen.
Tabel 1: Instrumen Pengukuran Observasi Sikap Menerima (Anak Pra-Remaja)
| Aspek yang Diamati | Skor 1 (Kurang) | Skor 2 (Cukup) | Skor 3 (Baik) |
|---|---|---|---|
| Lafal Mengulang Ayat | Kurang jelas | Cukup jelas | Jelas dan benar |
| Kelancaran Ucapan | Terputus-putus | Kadang terputus | Lancar dan mengalir |
| Sikap Duduk & Perhatian | Sering tidak tenang (< 2 menit) | Kadang tenang (2–4 menit) | Duduk tenang terus (≥ 5 menit) |
(Naskah selengkapnya dapat dipelajari melalui tampilan pratinjau di bawah ini)
